Showing posts with label Writing Contest. Show all posts
Showing posts with label Writing Contest. Show all posts

Thursday, February 21, 2013

Setiap Tempat Punya Cerita [Ikatrina Zulfi Aisyah]

Judul : Delegan Pelipur Lara

Tempat : Pantai Delegan Gresik

Berama 2 sahabat. Tya & Ivonne di Pantai Delegan
Dengan menaruh kamera di atas tumpukan batu karang dan beralas tas selempanganku, di setting untuk mengambil gambar dalam 10 detik, kami siap berpose di depan kamera dan. Jepret!

Foto kami diatas pun terambil dan Alhamdulillah hasilnya bagus, tidak begitu menunjukkan betapa besar perut dan seluruh tubuh saya. haha..
Foto yang kami abadikan ini merupakan kali pertama kami bertiga melakukan perjalanan dari Kota Surabaya, tempat kami tinggal dan bekerja saat ini, menuju Kota Gresik tempat Pantai Delegan ini berada. Kami bertiga sudah menjadi sahabat sejak bertahun-tahun lalu namun ini kali pertama kami berlibur hanya bertiga saja. Kami menyebut diri kami TIM HORE, karena sifat kami bertiga yang selalu ceria dan sering kali bertingkah gila satu sama lain.

Mengapa liburan kami kali ini terasa begitu berkenan dan meninggalkan banyak cerita bagi kami, adalah dikarenakan kami bertiga saat itu sedang mangalami yang namanya Gelisah Antara Lanjut Atau Udahan, disingkat GALAU. Kepenatan yang kami rasakan karena tekanan pekerjaan dan hal-hal lainnya yang menumpuk selama berbulan-bulan inilah yang membuat kami memutuskan untuk berkunjung sejenak untuk melepaskan lelah kami. Teman-teman kami, yang sudah mengunjungi Pantai Delegan ini berkata bahwa tempatnya sangat indah.

Perjalanan selama 2 jam pun kami tempuh dengan menggunakan Mobil. Bermodalkan Google Maps di Handphone, kami berangkat dari Surabaya dan setelah sempat ragu beberapa kali di Jalan, kami pun sampai di pintu masuk Wisata Pantai Delegan, Gresik. Kami pun memarkir mobil di tempat parkir yang disediakan dan dengan semangat turun dari mobil.

Sedikit terkejut karena kaki kami langsung menginjak pasir berwarna putih dan terasa halus begitu keluar dari Mobil. Kami pun memutuskan untuk segera berjalan keluar dari arena Parkir dan mendekati pinggir pantai. Angin bertiup sepoi-sepoi menerpa wajah kami. Ajaib.! Segala kepenatan kami pun terasa lenyap begitu saja.

Tubuh dan pikiran kami yang selama berbulan-bulan di forsir dan dipaksa untuk bekerja tanpa kenal lelah, terasa ringan. Untuk sejenak. kami menikmati udara hangat bercampur dengan angin yang sejuk di pinggir pantai, sebelum akhirnya duduk dan mengobrol sembali memperhatikan orang-orang yang bermain air di pantai dengan gembira. Rasanya kami pun seakan menikmati kegembiraan orang-orang tersebut.

Walaupun masih saja ada orang yang membuang sampah di pasir Pantai yang indah itu (seperti terlihat di Foto), namun keindahan pantai Delegan sungguh mempesona. Keindahannya membuat kami kembali tersenyum bahagia, dan kembali bersemangat untuk memulai aktivitas esok hari. Delegan menghilangkan segala lara di hati kami. Bagi kami bertiga, Pantai Delegan memiliki tempat tersendiri di hati kami dan kami tak sabar untuk kembali berkunjung ke Delegan, suatu saat nanti.


Sunday, November 11, 2012

Guru sebagai Pendidik atau Pemberi Tugas?

Mungkin pertanyaan tersebut terasa sangat janggal untuk pertanyaan menyangkut Guru yang selama ini selalu identik dengan image seorang Pendidik atau Pengajar. Tapi bagi saya, ada (tetapi tidak semua) guru yang bisa saya sebut, tidak sebagai seorang Pendidik yang mendidik anak didiknya di sekolah untuk menjadi lebih baik atau seorang Pengajar yang mengajarkan ilmu yang berguna kepada murid-muridnya, tapi sebagai seorang Pemberi Tugas yang membebankan banyak pekerjaan.

PR.

PR atau singkatan dari Pekerjaan Rumah adalah 2 huruf yang paling sering saya (dan mungkin anda semua) lihat di status anak-anak yang masih duduk di bangku SMP – SMA atau bahkan SD jaman sekarang, baik di Facebook, Twitter, atau di beberapa jejaring sosial lainnya.

Bukan hanya anak-anak tersebut, adik saya sendiri –yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP- dan saya juga mengalaminya ketika masih menjadi seorang pelajar.

Saya ingat betul ketika saya masih sebagai murid di bangku kelas 2 SMP, bagaimana dulu ada seorang guru yang memasuki ruangan lalu menulis di papan tulis.

“Kerjakan LKS (Lembar Kerja Siswa) dari halaman 20-40.”

Lalu kemudian beliau duduk di bangkunya menunggu hingga jam pelajaran tersebut berakhir dan menyuruh menyumpulkan tugas yang kami kerjakan sesuai instruksinya tersebut. Lalu kembali memberikan beberapa tugas kepada kami (murid di kelas 2-C) untuk dikerjakan di rumah dan kumpulkan minggu depan pada saat mata pelajaran tersebut kembali.

Intinya, yang kami lakukan selama jadwal pelajaran tersebut adalah mengerjakan LKS dan soal-soal di buku Kitab yang disediakan dan lalu membawa pulang soal-soal lain untuk dikerjakan pada malam harinya.

Adik saya, yang tahun ini (2012) menjadi murid kelas 3 SMP juga mengalami hal yang serupa. Ada beberapa guru yang masih memberikan Pekerjaan Rumah (PR) setelah dia selesai mengikuti seluruh pelajaran sekolah dan Les Tambahan, mengingat dia akan menghadapi ujian nasional tingkat sekolah menengah pertama.

Bukan hanya saya dan adik saya yang mengalami hal ini, banyak murid lain di seluruh Nusantara ini yang saya yakin juga pernah mengalami atau masih mengalami hal ini. Tumpukan tugas yang menanti mereka, tidak hanya dari 1 mata pelajaran namun lebih dari 1 mata pelajaran memiliki Pekerjaan Rumah untuk dibawa pulang, dan harus dikerjakan.

Coba anda sekalian bayangkan bagaimana otak para pelajar yang digunakan sejak jam 7 pagi hingga siang hari, lalu bagi yang memiliki les tambahan atau mengikuti bimbingan belajar harus menggunakannya hingga sore hari, harus di forsir kembali untuk berpikir di malam hari untuk mengerjakan pekerjaan rumah tersebut. Mereka bahkan tidak punya waktu untuk beristirahat atau bermain dengan teman-teman sebayanya.

Menurut saya, pemberian Pekerjaan Rumah setiap harinya tidaklah terlalu penting. Mungkin berguna untuk mendidik murid-murid menjadi lebih bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Namun coba kalau dipirkan dari sudut pandang lain, bagaimana apabila justru tugas ini yang menjadikan para murid jenuh untuk belajar secara terus menerus? Membuat murid menjadi muak dengan semua yang mereka kerjakan dari pagi sampai malam?

Terutama bagi siswa Sekolah Dasar (SD), yang mana menurut saya tidak perlu untuk diberikan Pekerjaan Rumah namun cukup diajarkan selama di sekolah. Menurut saya (lagi), menanamkan / mengajarkan ilmu kepada murid sekolah dasar sama seperti membuat Pondasi ketika membangun rumah.

Kalau harus di jabarkan, ketika di tingkat Taman Kanak-kanak, adalah perkenalan dan awal dari segalanya. Diumpamakan dengan proses membangun rumah maka di Taman Kanak-kanak adalah dimana kita diperkenalkan mana yang disebut Batu Bata, Pasir, Semem, dan lain sebagainya.

Lalu di Sekolah Dasar adalah dimana membangun Pondasi yang kuat untuk mebangun rumah tersebut. Tidak perlu rapid an sempurna, namun kokoh dan dapat menopang bangunan rumah yang akan di bangun kemudian hari. Jadi tidak perlu mencekoki para murid dengan tambahan Pekerjaan Rumah bagi murid-murid Sekolah Dasar, cukup ajarkan yang seperlunya di sekolah, buat mereka mengerti apa yang para guru ajarkan.

Lalu bagaimana dengan sekolah yang menerapkan sistem Full Day School?
Saya banyak mendengar wali murid yang menyekolahkan putra-putrinya di sekolah Full Day School dan masih mendapat setumpuk pekerjaan rumah dari para guru di sekolah itu. Anak-anak tersebut menjadi merasa terbebani dengan semua itu. Well… saya pun demikian, karena SMA saya dulu menerapkan sistem full day school juga.

Beberapa orang sering berkata kepada saya bahwa hal tersebut kemungkinan karena guru yang malas untuk mengajarkan semua materi yang seharusnya mereka ajarkan kepada para murid sehingga mereka memberikan Pekerjaan Rumah yang banyak. Saya jadi berpikir, mungkin benar juga seperti itu. Namun saya tahu bahwa tidak semua guru seperti itu.

Saya tahu bahwa masih banyak guru yang benar-benar memiliki tujuan murni untuk mendidik murid-muridnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa berguna untuk bangsa dan Negara, agama dan keluarga, serta untuk diri murid itu sendiri. Saya bukannya merasa sok atau merasa berhak untuk menhakimi para guru, namun disini saya hanya menyampaikan pendapat saya mengenai guru yang memberikan Pekerjaan Rumah yang berlebihan kepada para murid, khususnya murid Sekolah Dasar.

Mungkin alangkah baiknya apabila para Guru lebih menfokuskan untuk mengajarkan materi yang diperlukan para murid di kelas hingga mereka mengerti dan tidak justru membebankan segudang Pekerjaan Rumah untuk dikerjakan para murid sepulang sekolah. Dengan begitu para murid jadi memiliki waktu untuk mengistirahatkan otak mereka agar kembali segar untuk mengikuti pelajar keesokan harinya.

Mungkin seperti ini saya tulisan atau pendapat saya sebagai sumbangan pikiran untuk pendidikan di Indonesia. Saya berharap bahwa semua guru di Indonesia menjadi Pendidik, bukan Pemberi Pekerjaan Rumah atau Pemberi Tugas kepada murid-muridnya.



<a href="http://www.indonesiaberkibar.org"><img src="http://indonesiaberkibar.org/sites/all/themes/images/GIB-1.jpg" style="width: 400px; height: 400px;" /></a>